Kerja di rumah sakit

 Pengalaman pribadi saya, dan ini adalah kisah nyata.

Usia saya kala itu 18 tahun, tidak mengecap bangku sekolah formal. Karena faktor ekonomi dan desakan orang tua saya memutuskan pergi dari rumah dan merantau.

Saya melamar di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa, kebetulan saya di tempatkan sebagai tukang bersih-bersih disebuah rumah sakit swasta.

Bekerja dengan 3 jam kerja,pagi-siang-malam. Tetap 8 jam kerja/hari dan libur 1 kali seminggu.

Singkat cerita, hari itu saya masuk jam malam (22.00-06.00). Kami hanya ber 3,untuk mengurus 4 lantai di gedung rumah sakit tersebut.

Saya dapat pos di lantai 2, yang isinya ruang periksa poli (poli mata,poli anak, poli kulit, dll). Jumlah ruangan ada sekitar 20. Berbeda dengan lantai 1,3, dan 4 yang masih terdapat orang, dokter, perawat, dan keluarga pasien. Di lantai 2 ini kosong dan memang hanya sampai jam 10 malam untuk kegiatan operasional.

Saya mulai bekerja dengan perasaan biasa saja, sama seperti hari biasanya. Hp di saku celana memutar musik supaya tidak sepi dan tetap semangat.

Lampu koridorpun saya nyalakan semua supaya tetap terang, saya memulai bekerja dari ruangan paling ujung dan agak serem. Semua berjalan normal, dan tibalah di ruang terakhir. Poli gigi, ruangan paling besar. 

Saya masuk, dan mulai membuang sampah. Saya agak merasa deg-deg'an tanpa sebab yang pasti. Berusaha tetap tenang dan bersikap biasa aja.

Saya lanjutkan membersihkan meja dokter, dari arah luar ruangan terdengar suara orang berlari dengan sepatu. Saya tengok keluar, tidak ada siapa-siapa.

Saya berfikir, itu pasti satpam/tekhnisi yang sedang lewat, biasalah.

Melanjutkan bekerja, terdengar lagi nih suara yg sama, bedanya kali ini lebih jelas dan mendekat. Dengan cepat saya langsung keluar untuk memastikan, dan lagi-lagi kosong.

Saya percepat gerakan untuk menyelesaikan kerjaan ini. Setelah selesai, berjalan menuju koridor untuk menaruh alat kerja.

Saat sedang merapikan alat, dengan sangat jelas dan sadar saya mendengar suara sendawa tepat di samping telinga kiri. Suara yang keras dan tidak mungkin itu halusinasi.

Sudah pasti saya kabur, menuju lantai 3 mencari teman. Keringat dingin keluar, rasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Saya ceritakan semua cerita ini keesokan paginya. Dan ternyata benar, dari pengalaman senior saya lantai 2 di rumah sakit itu adalah pusat dari energi metafisika (mistis).

Karena disitu yang paling sering menunjukan "eksistensi" . Dan sosok yang menjahili saya adalah sosok tinggi besar, hitam, yang pundaknya sampai menyentuh plafon.

Sosok itu yang paling sering menampakan diri, dan ternyata banyak yang sudah melihat sosok itu.

Itulah hari dimana menjadi awal pengalaman saya menuju hal-hal mistis yang makin sering saya alami.

Wanita menangis, si suster usil, wanita yang ada di gedung rumah sakit lama, sampai anak-anak penunggu pohon beringin tua

Semua ada di rumah sakit ini, 

Saya lanjutkan minggu mepan...

Comments